• experience
  • ·
  • 21 Oct 2021

Fenomena Mirip Aurora di Gunung Menoreh, Ini Penjelasan Saintifiknya


Fenomena api di bukit Menoreh yang terjadi pada Kamis malam, 30 September 2021, sempat menarik perhatian publik. Ketika itu, Menoreh mengeluarkan 'api' dengan warna kehijauan dan disebut mirip dengan aurora. Terkait fenomena ini, peneliti Klimatologi pada Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer BRIN, Dr. Erma Yulihastin, mengatakan peristiwa itu sebagai langit glowing. Disebut bahwa langit glowing dicirikan oleh warna kehijauan pada langit di malam hari yang terjadi karena keberadaan gelombang gravitasi atmosfer atau dikenal sebagai GGA.

Adapun GGA merupakan gelombang gravitas yang terdapat di atmosfer dengan skala planet, yang dapat terbentuk karena suatu gangguan di atmosfer pada suatu lokasi tertentu. Kondisi ini mengganggu lapisan atmosfer dari permukaan hingga lapisan paling tinggi di atmosfer, seperti lapisan mesosfer. Gangguan di atmosfer permukaan atau yang terjadi di lapisan troposfer yang diketahui dapat membangkitkan GGA adalah aktivitas konvektif yang menghasilkan awan konveksi yang tinggi.

Lebih lanjut dijelaskan, salah satu laporan langit glowing sempat terjadi di Argentina. Saat ini, peristiwa GGA yang tampak kehijauan terjadi karena aktivitas badai skala meso yang terjadi sekitar 100 km dari tempat pengamatan fenomena tersebut. Sementara peristiwa langit glowing yang terjadi di Menoreh, berdasarkan pengamatan dari data Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA)-BRIN menunjukkan badai skala meso yang kuat dan meluas terbentuk di atas lautan berjarak sekitar 200 km dari lokasi, di Selat Karimata sebelah barat Kalimantan. Badai skala meso tersebut bergerak sepanjang hari seperti pendulum. Awalnya, badai itu terbentuk di Sumatera pagi hari, lalu menuju timur ke arah Kalimantan melintasi laut Tiongkok Selatan hingga sore hari. Lalu pada malam hari, badai ini bergerak kembali dari Kalimantan menuju laut dan menetap di sana hingga tengah malam. Aktivitas badai seperti pendulum ini yang kemungkinan menjadi pengganggu bagi lapisan atmosfer, sehingga terbentuk GGA sangat kuat dan penampakannya dapat dilihat di satu lokasi di Jawa Tengah.